Jumat, 26 Desember 2014


                                penelitian rasulullah terhadap syair


  • Pengertian Syair
Kata sya’ir atau syi’ir (الشعر) menurut etimologi berasal dari kata ‘شعر اوشعرyang berarti mengetahui atau merasakan. Adapun menurut terminology terdapat beberaapa pendapat diantaranya:
Suatu kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama dan sajak yang mengungkapkan tentang khayalan dan imajinasi yang indah”.
Bagi orang arab, kata syair mempunyai arti tersendiri sesuai dengan penegetahuan kemampuan, dan kebiasaan mereka. Dalam pandangan mereka sya’ir berate tersendiri sesuai dengan pengetahuan, kemampuan, dan kebiasaan mereka, syair berate pengetahuan, kemampuan, dan kebiasaan mereka. Karena syair mempunyai arti kepandaian dan pengetahuan, maka pelakunya dikenal denagan al-fatih(cerdik pandai). Pendapat ini ada kemiripian dengan pengertian poet dalam bahasa yunani yang artinya membuat atau mencipta, poet berate pencipta memaluli imajinasinya atau orang yang berpanglihatan tajam. Sekaligus orang filosofi, negarawan guru, dan menebak kebenaran yang metafisika.
Dalam enskolopedia islam disebutkan bahwa syair adalah ucapan atau susunan kata yang fasih yang terikat dengan irama secara pengulangan bunyi dan unsure irama yang berpola tetap dan biasanya mengukapakan imajinasi yang indah dan berkesan memikat. 
  • Syair Dalam Kehidupan Bangsa Arab
Ada dua cara dalam mempelajari syair arab dimasa jahiliyah, kedua cara itu sangat besar faedahnya :
  1. Mempelajari syair itu sebagai suatu kesenian yang sangat dihargai oleh bangsa arab pada masa itu
  2. Mempelajari syair itu dengan maksud supaya kita dapat mengetahui adat istiadat dan budi pekerti bangsa arab.
Syair adalah salah satu seni yang paling indah yang amat dihargai dan dimuliakan oleh bangsa arab. Mereka sangat gemar berkumpul mengelilingi penyair-penyair untuk mendengarkan syair-syair mereka. Ada beberapa pasar tempat para penyair berkumpul yaitu pasar ukaz, majinnah, dan zul majas. Di pasar-pasar itu para penyair menyanyikan syairnya yang telah sisiapkan, sehingga warga sukunya mengelilingi penyair yang menjadi kebanggannya. Di pililah diantara syair-syair itu yang terbagus, lalu digantukan di ka’abah tidak jauh dari patung dewa-dewa pujan mereka. Seorang penyair mempunyai kedudukan sangat amat tinggi dalam masyarakat bangsa arab. Salah satu pengaruh dari syair pada bangsa arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat seorang yang tadinya hina atau sebaliknya dapat menghinakan yang tadinya mulia.
Syair-syair dari penyair yang hidup di masa jahiliyah menjadi sumber terpenting bagi sejarah bangsa arab sebelum islam, syair-syair dapat menggambarkan kehidupan bangsa arab di masa jahiliyah, orang yang membaca syair arab akan melihat kehidupan bangsa arab tergambar dengan jelas pada syair itu, dia akan melihat kehidupan padang pasir kemah-kemah tempat permainan dan sumber-sumber air, dia akan mendengar tutur kata pemimpin-pemimpin laki-laki dan wanita, dia akan mendengar bunyi kuda dan gemerincing pedang. Syair itu akan mengisahkan kepadanya peperangan, adat istiadat, dan budi pekerti bangsa arab dan banyak lagi hal-hal lain yang syair arab jahiliyah itu adalah sumber untuk mengetahuinya1.
  • Tokoh-Tokoh Syair Islam
Banyak sekali karya syair-syair yang terkenal dan bagus pada masa itu tetapi muallagadah penyair arab yang kualitas syairnya tingkat pertama pada masa itu yakni umrul qais, nagibah adz zibyzny, zuhair bin abi sulam2.
  1. Umrul qais
umrul qais adalah penyair arab yang hidup pada tahun 150 tahun sebelum hijriah. Dia dijuluki al-malik ad dhalil (raja dari segala raja penyair). Penyair ini berasal dari suku kindah yang pernah berkuasa penuh di yaman karena itu penyair ini dikenal dengan penyair yaman (hadrumaut). Umrul qais seorang raja yaman bernama hujur al-kindy, ibunya Fatimah binti rabia’ah. Segi penyair ini sangat berpengaruh dalam kepribadian penyair ini, umrul qais di besarkan di nejad dengan kehidupan dunia yang melimpah dan dalam lingkungan keluarga yang suka berfoya-foya.
  1. Zuhair bin abi sulma
Zuhair bin abi sulma berasal dari bani ghathaf dan dibesarkan dari kelurga penyair sejak kecil penyair ini belajar syair dari pamannya sendiri yang bernama basyamah bin sihadir dan aus bin hujur. Karena itu penyair ini terkenal sejak kecil. Selain itu bakatnya sudah muncul dari muda penyair ini disenangi oleh segenap kaumnya karena keprbadiaan dan budi pekertinya yang tinggi. Beliau sang terkenal dengan kesopanan kata-kata sayirnya, imajinasi dan pemikirannya yang matang dan banyak orang menjadikan syairnya sebagai contoh hikmat dan pemikiran kebijaksanaan sehingga tidak aneh jika pendapatnya selalu di terima oleh kaumnya.
  1. Nabigah adz-zibyanyany
Nabigah adz-zibyanyany nama aslinya umamah ziyad bin muawiyyah, ia dipanggil nabigah karena sejak muda pandai bersyair kata nabigah sendiri berate pandai, ia merupakan salah satu tokoh termuka para penyair arab jahiliyah dan dewan hakim mereka dipasar ukaz. Ia penyair terbaik dalam menampilkan diksi/pemilihan kata jelas dalam mengemukakan makna dan lembut dalam permohonan maaf.
  • Syair Yang Dilarang
Allah swt. Berfirman :
Artinya:
224. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.
225. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah,
226. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak  mengerjakan(nya)?
227.  Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.
Yang dimaksud dengan ayat Ini ialah bahwa sebagian penyair-penyair itu suka mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan yang baik yang tertentu dan tidak punya pendirian.


Al-Ghaawuun, orang-orang yang sesat di dalam syair mereka, lalu orang lain mengikuti jejak mereka dan meriwayatkan syair-syair dari mereka. Perawi dan orang-orang yang menjadi sumbernya dicela oleh syariat.
Di tiap-tiap lembah, maksudnya dalam setiap kesenian bicara, mereka salami semua, lalu mereka melampaui batas dengannya, baik dalam pujian maupun celaan. Mereka selalu berdusta dan mereka tercela dari berbagai sudut pandangan.


حَدِيثُ ابي هريرة رضي الله عنه،قال النبي ص.م. : ((اصد ق كلمة قالهاالشاعر،


كلمة لبيد : الا كل شيءماجلااللا با طل* وكاد امية بن ابي الصلت ا ن يسلم))
Artinya:
Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Setepat-tepat kalimat yang diucapkan oleh pujangga ialah kalimat Labied: Ingatlah segala sesuatu selain Allah itu batil (palsu). Dan Umayyah bin Abi Asshalt hampir masuk Islam. (Bukhari, Muslim di  كتاب الادب:باب مايجوزمن الشعروالرجزوالحداء ومايكره منه  ). Karena mengubah sajak yang berisi tuntunan iman, tetapi ia sendiri tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw.
Labid wazannya sama dengan ‘abid; dia adalah Ibnu Rabi’ah Ibnu Amir Al-Amiri, seorang sahabat dan salah seorang di antara para penyair terkemuka. Dia telah mengarang suatu kasidah yang di dalamnya terdapat salah satu bait syair yang mengatakan sebagai berikut:
Ingatlah, segala sesuatu selain Allah pasti musnah.3
Dengan kata lain, segala sesuatu pasti musnah dan lenyap kecuali Allah swt. Kalimat ini merupakan kalimat yang paling benar yang pernah di katakana oleh penyair karena maknanya sama dengan apa yang terkandung di dalam firman-Nya :
Artinya:
Semua yang ada di bumi itu akan binasa.  (Ar-Rahman:26)
Bangsa Arab dari dahulu dikenal sebagai bangsa yang fasih dan pandai dalam menggubah syair. Al-Quran diturunkan di daerah Arab, yang di kenal maju di bidang syair. Hal itu menyebabkan Al-Quran banyak menyinggung tentang syair, bahkan dalam Al-Quran terdapat satu surat yang dinamakan para penyair (Asy-Syu’ara).
Al-Quran memiliki keindahan ayat-ayatnya yang sulit ditandingi oleh penyair manapun, bahkan semua penyair Arab telah ditantang oleh Al-Quran; baik dari bangsa manusia atau jin untuk membuat satu surat saja yang seperti Al-Quran dan ternyata tidak ada yang mampu menjawab tantangan tersebut.
Namun mereka tetap menyangka Al-Quran itu merupakan syair dan Muhammad sebagai pembuat syair dan penyihir. Pendapat ini dibantah oleh Al-Quran. Sebagaimana Allah swt. berfirman:
Artinya:
Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan. (Yaasin:69)
Hukum asal bersyair makruh dan tidak boleh dilakukan karena bersyair merupakan sumber bagi berbangga diri dan kesesatan, serta adakalanya mendorong kepada perbuatan yang tidak diperbolehkan oleh syariat. Ayat ini memiliki maksud bahwa Allah tidak mengajarkan syair kepada Nabi, dan tidak layak baginya mengajarkan syair kepada umatnya, sebab syair adalah perkataan manusia.[6]
Dalam hadits disebutkan :
حديث ابي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله ص.م.: لان يمتلئ جوف رجل قيحايريه، خيرمن ان يمتلئ شعرا.
Artinya:
Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. Bersabda: Jika perut seseorang itu penuh dengan nanah yang akan merusak, niscaya lebih baik dari pada penuh dengan sya’ir (sajak). (Bukhari, Muslim.)
Memenuhi perut dengan nanah dapat meracuni orang yang bersangkutan dan dapat membunuhnya. Hal ini hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar. Tetapi memenuhi rongga dada dengan hafalan syair dosanya lebih besar.
Ancaman ini menyangkut bagi syair-syair yang dicela oleh syariat.
Abu Sa’id r.a. menceritakan hadits berikut:
بَيْنَا نَحْنُ نَسِيْرُ مَعَ النَّبِيِّ ص.م. بِالْعَرْجِ إِذْعَرَضَ شَاعِرٌ يُنْشِدُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهُ ع.م. : خُذُ واالشَّيْطَانَ أَوْ أَمْسِكُواالشَّيْطَانَ, لَاَنْ يَمْتَلِىءَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتُلِىءَ شِعْرً.
Artinya:
Ketika kami sedang berjalan bersama Nabi saw. di ‘Arj, tiba-tiba muncul seorang penyair yang mendendangkan syairnya. Rasulullah saw. bersabda, “Tangkaplah setan itu, atau tahanlah setan itu! Sesungguhnya bila seseorang memenuhi rongga dadanya dengan nanah, lebih baik baginya daripada memenuhinya dengan syair. (Riwayat Imam Muslim)
Nabi saw. menamakannya setan karena penyair tersebut adalah orang kafir, atau pengetahuan paling besarnya adalah syair, atau pada syairnya terkandung makna yang tercela.
Menurut sebagian ulama, syair yang dilarang adalah yang isinya menjelek-jelekkan atau memfitnah Nabi saw. Akan tetapi, hal itu dibantah ulama lain. Mereka berkata bahwa syair yang dilarang itu tidak dapat dikhususkan kepada hal-hal yang berisi ejekan, karena ada yang lebih berbahaya yakni yang berisikan kekufuran.4
  • Syair Yang Diperkenankan
Jundup r.a. menceritakan hadits berikut:
بينما النبي ص.م. يمشى اذاصابه حجرفعثر فذ ميت ا صبعه فقال: هل انت الا اصبع دميت وفى سبيل الله ما لقيت.
Artinya:
Ketika Nabi saw. sedang berjalan, tiba-tiba terantuk batu sehingga beliau terjatuh dan salah satu tangannya terluka, lalu beliau bersabda, “Tiadalah engkau ini melainkan sebuah jari yang terluka dengan sedikit darah di jalan Allah.” (Riwayat Bukhari)
Disini Rasulullah saw. meniru atau menukil syair yang pernah dikatakan oleh Abdullah ibnu Rawaahah, bukan berasal dari diri beliau sendiri.5
Dalam riwayat lain disebutkan:
وَسُعِلَتْ عَا ئِـشَةَ ر.ع. : هَلْ كَانَ النَّبِيُّ ص.م. يَتَمَثَّلُ بِشَىْءٍ مِنَ الشِّعْرِ؟ قَالتْ : كَانَ يَتَمَثَّلُ بِشِعْرِابْنِ رَوَاحَةَ وَ يَتَمَثَّلُ وَيَقُوْلُ : وَيَأْ تِيْكَ بِلْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تَزَوِّدِ.
Artinya:
Siti Aisyah r.a. pernah ditanya, “Apakah Nabi saw. menirukan sesuatu dari syair?” Ia menjawab, “Beliau pernah meniru syair Ibnu Rawaahah dan pernah menirukan sebuah syair yang mengatakan, ‘Dan kelak akan datang kepadamu berita-berita yang dibawa oleh seseorang yang tidak kamu inginkan (kedatangannya)’. (Riwayat Turmudzi)
موجبات المغفرة بذ ل السلا م وحسن الكلا .ان من
Artinya:
Sesungguhnya dari sya’ir itu lahir hikmah dan dari bayan lahir sihir”.


Hikmah ialah perkataan yang benar sesuai dengan kenyataan.
Pendapat lain menyatakan, yang dimaksud dengan hikmah ialah ucapan yang memelihara diri dari ketololan dan kebodohan.
Diantara syair itu ada yang mengandung hikmah, seperti syair yang menyangkut masalah ilmu syariat, syair yang menyangkut nasehat, dan peribahasa yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Syair-syair semacam itu dianjurkan untuk didendangkan dan di pelajari.
Di dalam “Al Jamu’ul Kabir” diriwayatkan dari Ahmad bin Abi Bakar Al-Asadi dari ayahnya, bahwa ia telah datang kepada Rasulullah. Ketika rasulullah mengetahui tentang kepasihan lidahnya, Rasulullah berssabda: “Betapa bagusnya wahai saudaraku, apakah engkau dalam membaca Al-Quran juga dengan kefasihanmu itu?”. Jawabnya: “ Tidak, tetapi yang telah kubaca tadi adalah syair dari diriku sendiri, dengarlah!”. Kata Rasulullah: “Bacakanlah!”. Ujarnya:
Suara pendengki menawan hati mereka. Penghormatanmu yang sedikit terkadang mengangkat kerendahan. Jika mereka mengungkapkan keburukan, ungkapkanlah yang sepadan. Jika mereka mendiamkanmu, janganlah engkau tanya. Dan jika mereka menyakitimu, biarkan. Apa yang dikatakannya, jangan kau katakana”.
Maka Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya dari syair . . . dan seterusnya seperti hadits di atas.” Kemudian beliau membaca: “Qul huwallahu ahad”.
Jabir Ibnu Samurah r.a. menceritakan hadits berikut:
جَالَسْتُ النَّبِىُّ ص.م. أَكْثَرَ مِنْ مِا ئَةِ مَرَّةٍ فَكَانَ أَصْحَا بُهُ يَتَنَا شَدُوْنَ الشِّعْرَ وَ يَتَذَا كَرُوْنَ أَشْيَاءَ مِنْ أَمْرِالجَا هِلِيَّةِ وَهُوَسَاكِتٌ وَرُبَّمَا تَبَسَّمَ مَعَهُمْ.
Artinya:
Aku sering duduk bersama Nabi saw. lebih dari seratus kali, para sahabatnya sering mendendangkan syair-syair serta saling bercerita tentang berbagai peristiwa di masa jahiliyah, sedangkan beliau diam saja dan adakalanya beliau ikut tersenyum bersama mereka. (Riwayat Turmudzi)
Hadits ini menandakan bahwa Rasulullah saw. tersenyum ketika mendengar syair yang mengandung hikmah sebagai ungkapan setuju.
Syair bergantung kepada bagaimana isinya, jika berisi tuntunan syara’, maka diperbolehkan. Akan tetapi, apabila isinya bertentangan dengan ajaran Islam, maka tidak diperbolehkan.6




































1 Madiun,kondisi social politik dan agama arab pra islam, http://indonesia –admin.blogspot.com/2010/02/kondisi-sosial-politik-dan-agama-arab.html#.ubnZMHL4QgA diakses12/06/2013.
2 Humaini, penyair arab zaman jahiliyah,himasaunpad.blogspot.com/2010/08/penyair-arab-zaman-jahiliyah.htmldiakses12/06/2013.
3 Syekh Mansur Ali Nashif, Mahkota Pokok-pokok Hadits Rasulullah, (Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007), hlm.829

4 Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), hlm.284
5 Syekh Mansur Ali Nashif, Mahkota Pokok-pokok Hadits Rasulullah, (Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007), h.828
6 Rachmat Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.280