penelitian rasulullah terhadap syair
- Pengertian Syair
Kata
sya’ir atau syi’ir (الشعر)
menurut etimologi berasal dari kata ‘شعر
اوشعر’
yang
berarti mengetahui atau merasakan. Adapun menurut terminology
terdapat beberaapa pendapat diantaranya:
“Suatu
kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama dan sajak yang
mengungkapkan tentang khayalan dan imajinasi yang indah”.
Bagi
orang arab, kata syair mempunyai arti tersendiri sesuai dengan
penegetahuan kemampuan, dan kebiasaan mereka. Dalam pandangan mereka
sya’ir berate tersendiri sesuai dengan pengetahuan, kemampuan, dan
kebiasaan mereka, syair berate pengetahuan, kemampuan, dan kebiasaan
mereka. Karena syair mempunyai arti kepandaian dan pengetahuan, maka
pelakunya dikenal denagan al-fatih(cerdik pandai). Pendapat ini ada
kemiripian dengan pengertian poet dalam bahasa yunani yang artinya
membuat atau mencipta, poet berate pencipta memaluli imajinasinya
atau orang yang berpanglihatan tajam. Sekaligus orang filosofi,
negarawan guru, dan menebak kebenaran yang metafisika.
Dalam
enskolopedia islam disebutkan bahwa syair adalah ucapan atau susunan
kata yang fasih yang terikat dengan irama secara pengulangan bunyi
dan unsure irama yang berpola tetap dan biasanya mengukapakan
imajinasi yang indah dan berkesan memikat.
- Syair Dalam Kehidupan Bangsa Arab
Ada dua cara dalam mempelajari syair
arab dimasa jahiliyah, kedua cara itu sangat besar faedahnya :
- Mempelajari syair itu sebagai suatu kesenian yang sangat dihargai oleh bangsa arab pada masa itu
- Mempelajari syair itu dengan maksud supaya kita dapat mengetahui adat istiadat dan budi pekerti bangsa arab.
Syair adalah salah satu seni yang
paling indah yang amat dihargai dan dimuliakan oleh bangsa arab.
Mereka sangat gemar berkumpul mengelilingi penyair-penyair untuk
mendengarkan syair-syair mereka. Ada beberapa pasar tempat para
penyair berkumpul yaitu pasar ukaz, majinnah, dan zul majas. Di
pasar-pasar itu para penyair menyanyikan syairnya yang telah
sisiapkan, sehingga warga sukunya mengelilingi penyair yang menjadi
kebanggannya. Di pililah diantara syair-syair itu yang terbagus, lalu
digantukan di ka’abah tidak jauh dari patung dewa-dewa pujan
mereka. Seorang penyair mempunyai kedudukan sangat amat tinggi dalam
masyarakat bangsa arab. Salah satu pengaruh dari syair pada bangsa
arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat seorang yang
tadinya hina atau sebaliknya dapat menghinakan yang tadinya mulia.
Syair-syair dari penyair yang hidup
di masa jahiliyah menjadi sumber terpenting bagi sejarah bangsa arab
sebelum islam, syair-syair dapat menggambarkan kehidupan bangsa arab
di masa jahiliyah, orang yang membaca syair arab akan melihat
kehidupan bangsa arab tergambar dengan jelas pada syair itu, dia akan
melihat kehidupan padang pasir kemah-kemah tempat permainan dan
sumber-sumber air, dia akan mendengar tutur kata pemimpin-pemimpin
laki-laki dan wanita, dia akan mendengar bunyi kuda dan gemerincing
pedang. Syair itu akan mengisahkan kepadanya peperangan, adat
istiadat, dan budi pekerti bangsa arab dan banyak lagi hal-hal lain
yang syair arab jahiliyah itu adalah sumber untuk mengetahuinya1.
- Tokoh-Tokoh Syair Islam
Banyak sekali karya syair-syair yang
terkenal dan bagus pada masa itu tetapi muallagadah penyair arab yang
kualitas syairnya tingkat pertama pada masa itu yakni umrul qais,
nagibah adz zibyzny, zuhair bin abi sulam2.
- Umrul qais
umrul qais adalah penyair arab yang
hidup pada tahun 150 tahun sebelum hijriah. Dia dijuluki al-malik ad
dhalil (raja dari segala raja penyair). Penyair ini berasal dari suku
kindah yang pernah berkuasa penuh di yaman karena itu penyair ini
dikenal dengan penyair yaman (hadrumaut). Umrul qais seorang raja
yaman bernama hujur al-kindy, ibunya Fatimah binti rabia’ah. Segi
penyair ini sangat berpengaruh dalam kepribadian penyair ini, umrul
qais di besarkan di nejad dengan kehidupan dunia yang melimpah dan
dalam lingkungan keluarga yang suka berfoya-foya.
- Zuhair bin abi sulma
Zuhair bin abi sulma berasal dari
bani ghathaf dan dibesarkan dari kelurga penyair sejak kecil penyair
ini belajar syair dari pamannya sendiri yang bernama basyamah bin
sihadir dan aus bin hujur. Karena itu penyair ini terkenal sejak
kecil. Selain itu bakatnya sudah muncul dari muda penyair ini
disenangi oleh segenap kaumnya karena keprbadiaan dan budi pekertinya
yang tinggi. Beliau sang terkenal dengan kesopanan kata-kata
sayirnya, imajinasi dan pemikirannya yang matang dan banyak orang
menjadikan syairnya sebagai contoh hikmat dan pemikiran kebijaksanaan
sehingga tidak aneh jika pendapatnya selalu di terima oleh kaumnya.
- Nabigah adz-zibyanyany
Nabigah adz-zibyanyany nama aslinya
umamah ziyad bin muawiyyah, ia dipanggil nabigah karena sejak muda
pandai bersyair kata nabigah sendiri berate pandai, ia merupakan
salah satu tokoh termuka para penyair arab jahiliyah dan dewan hakim
mereka dipasar ukaz. Ia penyair terbaik dalam menampilkan
diksi/pemilihan kata jelas dalam mengemukakan makna dan lembut dalam
permohonan maaf.
- Syair Yang Dilarang
Allah
swt. Berfirman :
Artinya:
224.
Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.
225.
Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap
lembah,
226.
Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak
mengerjakan(nya)?
227.
Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh
dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita
kezaliman. dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke
tempat mana mereka akan kembali.
Yang
dimaksud dengan ayat Ini ialah bahwa sebagian penyair-penyair itu
suka mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan yang baik
yang tertentu dan tidak punya pendirian.
Al-Ghaawuun,
orang-orang yang sesat di dalam syair mereka, lalu orang lain
mengikuti jejak mereka dan meriwayatkan syair-syair dari mereka.
Perawi dan orang-orang yang menjadi sumbernya dicela oleh syariat.
Di
tiap-tiap lembah, maksudnya dalam setiap kesenian bicara, mereka
salami semua, lalu mereka melampaui batas dengannya, baik dalam
pujian maupun celaan. Mereka selalu berdusta dan mereka tercela dari
berbagai sudut pandangan.
حَدِيثُ
ابي هريرة رضي الله عنه،قال النبي ص.م.
: ((اصد
ق كلمة قالهاالشاعر،
كلمة
لبيد :
الا
كل شيءماجلااللا با طل*
وكاد
امية بن ابي الصلت ا ن يسلم))
Artinya:
Abu
Hurairah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Setepat-tepat kalimat yang
diucapkan oleh pujangga ialah kalimat Labied: Ingatlah segala sesuatu
selain Allah itu batil (palsu). Dan Umayyah bin Abi Asshalt hampir
masuk Islam. (Bukhari, Muslim di كتاب
الادب:باب
مايجوزمن الشعروالرجزوالحداء ومايكره
منه ).
Karena mengubah sajak yang berisi tuntunan iman, tetapi ia sendiri
tidak beriman kepada
Nabi Muhammad saw.
Labid
wazannya sama dengan ‘abid; dia adalah Ibnu Rabi’ah Ibnu
Amir Al-Amiri, seorang sahabat
dan salah seorang di antara para penyair terkemuka. Dia telah
mengarang suatu kasidah yang di dalamnya terdapat salah satu bait
syair yang mengatakan sebagai berikut:
Dengan
kata lain, segala sesuatu pasti musnah dan lenyap kecuali Allah swt.
Kalimat ini merupakan kalimat yang paling benar yang pernah di
katakana oleh penyair karena maknanya sama dengan apa yang terkandung
di dalam firman-Nya :
Artinya:
Semua
yang ada di bumi itu akan binasa. (Ar-Rahman:26)
Bangsa
Arab dari dahulu dikenal sebagai bangsa yang fasih dan pandai dalam
menggubah syair. Al-Quran diturunkan di daerah Arab, yang di kenal
maju di bidang syair. Hal itu menyebabkan Al-Quran banyak menyinggung
tentang syair, bahkan dalam Al-Quran terdapat satu surat yang
dinamakan para penyair (Asy-Syu’ara).
Al-Quran
memiliki keindahan ayat-ayatnya yang sulit ditandingi oleh penyair
manapun, bahkan semua penyair Arab telah ditantang oleh Al-Quran;
baik dari bangsa manusia atau jin untuk membuat satu surat saja yang
seperti Al-Quran dan ternyata tidak ada yang mampu menjawab tantangan
tersebut.
Namun
mereka tetap menyangka Al-Quran itu merupakan syair dan Muhammad
sebagai pembuat syair dan penyihir. Pendapat ini dibantah oleh
Al-Quran. Sebagaimana Allah swt. berfirman:
Artinya:
Dan
kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu
tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran
dan Kitab yang memberi penerangan.
(Yaasin:69)
Hukum
asal bersyair makruh dan tidak boleh dilakukan karena bersyair
merupakan sumber bagi berbangga diri dan kesesatan, serta adakalanya
mendorong kepada perbuatan yang tidak diperbolehkan oleh syariat.
Ayat ini memiliki maksud bahwa Allah tidak mengajarkan syair kepada
Nabi, dan tidak layak baginya mengajarkan syair kepada umatnya, sebab
syair adalah perkataan manusia.[6]
Dalam
hadits disebutkan :
حديث
ابي هريرة رضي الله عنه، قال:
قال
رسول الله ص.م.:
لان
يمتلئ جوف رجل قيحايريه، خيرمن ان يمتلئ
شعرا.
Artinya:
“Abu
Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. Bersabda: Jika perut seseorang
itu penuh dengan nanah yang akan merusak, niscaya lebih baik dari
pada penuh dengan sya’ir (sajak)”.
(Bukhari, Muslim.)
Memenuhi
perut dengan nanah dapat meracuni orang yang bersangkutan dan dapat
membunuhnya. Hal ini hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar.
Tetapi memenuhi rongga dada dengan hafalan syair dosanya lebih besar.
Ancaman
ini menyangkut bagi syair-syair yang dicela oleh syariat.
Abu
Sa’id r.a. menceritakan hadits berikut:
بَيْنَا
نَحْنُ نَسِيْرُ مَعَ النَّبِيِّ ص.م.
بِالْعَرْجِ
إِذْعَرَضَ شَاعِرٌ يُنْشِدُ فَقَالَ
رَسُوْلُ اللهُ ع.م.
: خُذُ
واالشَّيْطَانَ أَوْ أَمْسِكُواالشَّيْطَانَ,
لَاَنْ
يَمْتَلِىءَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا
خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتُلِىءَ
شِعْرً.
Artinya:
Ketika
kami sedang berjalan bersama Nabi saw. di ‘Arj, tiba-tiba muncul
seorang penyair yang mendendangkan syairnya. Rasulullah saw.
bersabda, “Tangkaplah setan itu, atau tahanlah setan itu!
Sesungguhnya bila seseorang memenuhi rongga dadanya dengan nanah,
lebih baik baginya daripada memenuhinya dengan syair. (Riwayat Imam
Muslim)
Nabi
saw. menamakannya setan karena penyair tersebut adalah orang kafir,
atau pengetahuan paling besarnya adalah syair, atau pada syairnya
terkandung makna yang tercela.
Menurut
sebagian ulama, syair yang dilarang adalah yang isinya
menjelek-jelekkan atau memfitnah Nabi saw. Akan tetapi, hal itu
dibantah ulama lain. Mereka berkata bahwa syair yang dilarang itu
tidak dapat dikhususkan kepada hal-hal yang berisi ejekan, karena ada
yang lebih berbahaya yakni
yang berisikan kekufuran.4
- Syair Yang Diperkenankan
Jundup
r.a. menceritakan hadits berikut:
بينما
النبي ص.م.
يمشى
اذاصابه حجرفعثر فذ ميت ا صبعه فقال:
هل
انت الا اصبع دميت وفى سبيل الله ما لقيت.
Artinya:
Ketika
Nabi saw. sedang berjalan, tiba-tiba terantuk batu sehingga beliau
terjatuh dan salah satu tangannya terluka, lalu beliau bersabda,
“Tiadalah engkau ini melainkan sebuah jari yang terluka dengan
sedikit darah di jalan Allah.” (Riwayat Bukhari)
Disini
Rasulullah saw. meniru atau menukil syair yang pernah dikatakan oleh
Abdullah ibnu Rawaahah, bukan berasal
dari diri beliau sendiri.5
Dalam
riwayat lain disebutkan:
وَسُعِلَتْ
عَا ئِـشَةَ ر.ع.
: هَلْ
كَانَ النَّبِيُّ ص.م.
يَتَمَثَّلُ
بِشَىْءٍ مِنَ الشِّعْرِ؟ قَالتْ :
كَانَ
يَتَمَثَّلُ بِشِعْرِابْنِ رَوَاحَةَ
وَ يَتَمَثَّلُ وَيَقُوْلُ :
وَيَأْ
تِيْكَ بِلْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تَزَوِّدِ.
Artinya:
Siti
Aisyah r.a. pernah ditanya, “Apakah Nabi saw. menirukan sesuatu
dari syair?” Ia menjawab, “Beliau pernah meniru syair Ibnu
Rawaahah dan pernah menirukan sebuah syair yang mengatakan, ‘Dan
kelak akan datang kepadamu berita-berita yang dibawa oleh seseorang
yang tidak kamu inginkan
(kedatangannya)’. (Riwayat
Turmudzi)
موجبات
المغفرة بذ ل السلا م وحسن الكلا .ان
من
Artinya:
“Sesungguhnya
dari sya’ir itu lahir hikmah dan dari bayan lahir sihir”.
Hikmah
ialah perkataan yang benar sesuai dengan kenyataan.
Pendapat
lain menyatakan, yang dimaksud dengan hikmah ialah ucapan yang
memelihara diri dari ketololan dan kebodohan.
Diantara
syair itu ada yang mengandung hikmah, seperti syair yang menyangkut
masalah ilmu syariat, syair yang menyangkut nasehat, dan peribahasa
yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Syair-syair semacam itu
dianjurkan untuk didendangkan
dan di pelajari.
Di
dalam “Al Jamu’ul Kabir” diriwayatkan dari Ahmad bin Abi Bakar
Al-Asadi dari ayahnya, bahwa ia telah datang kepada Rasulullah.
Ketika rasulullah mengetahui tentang kepasihan lidahnya, Rasulullah
berssabda: “Betapa bagusnya wahai saudaraku, apakah engkau dalam
membaca Al-Quran juga dengan kefasihanmu itu?”. Jawabnya: “
Tidak, tetapi yang telah kubaca tadi adalah syair dari diriku
sendiri, dengarlah!”. Kata Rasulullah: “Bacakanlah!”. Ujarnya:
Suara
pendengki menawan hati mereka. Penghormatanmu yang sedikit terkadang
mengangkat kerendahan. Jika mereka mengungkapkan keburukan,
ungkapkanlah yang sepadan. Jika mereka mendiamkanmu, janganlah engkau
tanya. Dan jika mereka menyakitimu, biarkan. Apa yang dikatakannya,
jangan kau katakana”.
Maka
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya dari syair . . . dan seterusnya
seperti hadits di atas.” Kemudian beliau membaca: “Qul huwallahu
ahad”.
Jabir
Ibnu Samurah r.a. menceritakan hadits berikut:
جَالَسْتُ
النَّبِىُّ ص.م.
أَكْثَرَ
مِنْ مِا ئَةِ مَرَّةٍ فَكَانَ أَصْحَا
بُهُ يَتَنَا شَدُوْنَ الشِّعْرَ وَ
يَتَذَا كَرُوْنَ أَشْيَاءَ مِنْ
أَمْرِالجَا هِلِيَّةِ وَهُوَسَاكِتٌ
وَرُبَّمَا تَبَسَّمَ مَعَهُمْ.
Artinya:
“Aku
sering duduk bersama Nabi saw. lebih dari seratus kali, para
sahabatnya sering mendendangkan syair-syair serta saling bercerita
tentang berbagai peristiwa di masa jahiliyah, sedangkan beliau diam
saja dan adakalanya beliau ikut tersenyum bersama mereka”.
(Riwayat Turmudzi)
Hadits
ini menandakan bahwa Rasulullah saw. tersenyum ketika mendengar syair
yang mengandung hikmah
sebagai ungkapan setuju.
Syair
bergantung kepada bagaimana isinya, jika berisi tuntunan syara’,
maka diperbolehkan. Akan tetapi, apabila isinya bertentangan dengan
ajaran Islam, maka
tidak diperbolehkan.6
1
Madiun,kondisi social politik dan agama arab pra islam,
http://indonesia
–admin.blogspot.com/2010/02/kondisi-sosial-politik-dan-agama-arab.html#.ubnZMHL4QgA
diakses12/06/2013.
2
Humaini, penyair arab zaman
jahiliyah,himasaunpad.blogspot.com/2010/08/penyair-arab-zaman-jahiliyah.htmldiakses12/06/2013.
3
Syekh
Mansur Ali Nashif, Mahkota Pokok-pokok Hadits Rasulullah,
(Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007), hlm.829
5
Syekh
Mansur Ali Nashif, Mahkota Pokok-pokok Hadits Rasulullah,
(Bandung:Sinar
Baru Algensindo,2007), h.828
6
Rachmat
Syafei, Al-Hadits, (Bandung:Pustaka setia,2000), h.280
Tidak ada komentar:
Posting Komentar